©Hakcipta Terpelihara

KPD hambe allah~...........
terima kasih krn sudi sinngah .......di blog sy.......semua kisah_xseberape ne ade lah kisah benar dlm hidop sy ...dan ade sy masuk kan kisah kwn2 sy....tuk menjadikan iktibar

Sebarang petikan atau penyiaran semula mana-mana bahagian dari kandungan blog ini, tanpa dimaklumkan dan mendapat keizinan secara bertulis dari penulis blog ini, merupakan satu pencurian dan penciplakan.

Keizinan boleh didapatkan dengan menghubungi penulisnya melalui email.

Wednesday, 31 August 2011

Khawarij, Sejarah & Ajarannya part2

Ini sy dapat kan dalam kitab2.......

Dalam sejarah perkembangan Islam sejak dahulu kala telah terjadi perpecahan yang merupakan satu perwujudan dari sabda Rasulullah :
Akan terpecah umat ini menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu,lalu ditanyakan:siapakah mereka wahai Rasulullah ? beliau jawab: mereka adalah jama`ah (HSR At Tirmidzy) dan juga satu bukti akan kebenaran risalah kenabian Rasulullah.
Khawarij merupakan satu kelompok yang besar dari kelompok-kelompok sempalan yang menyimpang dari Islam dalam permasalahan aqidah dan mereka tergambarkan sebagai satu gerakan revolusi berdarah dalam sejarah Islam yang cukup banyak menyibukkan negeri-negeri Islam dalam tempo waktu yang lama untuk memadamkannya, kemudian merekapun sempat berhasil menebar kekuasaan politik mereka pada wilayah-wilayah yang luas dari negeri-negeri Islam di timur dan barat, khususnya di Omaan, Hadromaut, Zanzibar (Tanzania) dan sekitarnya dari wilayah Afrika dan Maghrib Arab (Maroko, Aljazair, Tunis dan Libia) dan sampai sekarang mereka masih memiliki tsaqafah yang terwakii oleh sekte Al Ibadhiyah yang tersebar di wilayah-wilayah tersebut, sampai masih memiliki satu kesultanan yaitu kesultanan Omaan.
Kemudian tidak diragukan kembali, bahwa sebagian pemikiran dan aqidah mereka -Khususnya Al Azaariqah yang berhubungan dengan pengkafiran pelaku kemaksiatan- sampai saat ini masih berkembang dan tampak jelas serta mereka masih memiliki pengikut yang menampakkan kekerasan dan kefanatikan mereka,sehingga membuat pembahasan tentang mereka ini menjadi penting dalam rangka menjelaskan pemikiran-pemikiran mereka yang menyimpang kepada umat dan menmyelamatkan mereka dari perangkap dan kesesatan kelompok ini, akan tetapi penting untuk diketahui bahwa hampir-hampir hilang semua referensi dari mereka kecuali referensi sekte Al Ibadhiyah, sehingga dalam pembahasan ini saya merujuk kepada tulisan-tulisan para ulama ahli Sunnah wal Jama`ah seputar mereka,dan dibagi dalam pokok-pokok sebagai berikut:
1. Definisi Khawarij.
1.a.Secara Etimologi Bahasa Arab
Khawarij adalah bentuk jama` dari khoorij dan Korij adalah kata turunan dari khuruj sedangkan khuruj secara etimologi Arab mengandung beberapa makna, diantaranya:
a.Hari Kiamat
berkata Abu Ubadah dalam menafsirkan firman Allah :
(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). (QS. 50:42)
khuruj adalah nama dari nama-nama hari qiamat

b. Kebangkitan dari kubur pada hari qiamat
sebagaimana dalam firman Allah :
sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan (QS. 54:7)
c. lawan dari masuk, yaitu keluar

d. Jihad di jalan Allah.
Sebagaimana firman Allah :
Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu. (QS. 9:46) dan:
Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka meminta ijin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah:Kamu tidak boleh keluar bersama-samaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang. (QS. 9:83)
e. Hijroh
sebagaimana firman Allah :
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)
akan tetapi para ahli bahasa arab memasukkan makna lain yaitu satu kelompok dari ahlil hawa yang menyempal dari agama atau Imam Ali bin Abi Tholib

Berkata Al Azhary :dan Al Khawarij adalah satu kaum dari ahlil hawa yang memiliki pemikiran-pemikiran tertentu.

Berkata Az Zubaidy :dan mereka adalah Al Haruriyah, dan Al Kharijah adalah satu dari mereka,jumlah mereka tujuh kelompok.mereka dinamakan demikian karena mereka menyempal dari manusia atau dari agama atau dari kebenaran atau dari Ali setelah perang shiffin.
b. Al-Haruriyah
Nama ini adalah nisbat pada tempat kumpulnya para pendahulu mereka ketika berpisah dan memberontak terhadap Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib, dan dia adalah satu tempat dekat dengan kota Kufah yang dinamakan Al-Harura`. Berkata Abul Hasan Al-Asy`ari dalam bukunya Maqalat Islamiyin: Dan yang menjadi [sebab] penamaan [kelompok] ini dengan Haruriyah adalah tinggalnya mereka di Harura` di permulaan pembentukannya
c. Asy-Syuraah
Ini adalah nama lalu bagi mereka, yang menurut mereka diambil dari firman Allah : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu`min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. 9:111)
Dan mereka selalu muji dan berbangga diri dengan nama ini. Berkata Abul Hasan Al-Asy`ari: Dan yang menjadi sebab penamaan mereka dengan syuraah adalah perkataan mereka telah kami jual jiwa-jiwa kami dalam ketaatan Allah, maknanya: kami telah membeli syurga.dengannya
d. Al-Maariqah
Nama lain untuk mereka adalah Al-Maariqah diambil dari hadits Rasulullah lihat hadits-hadits tentang khawarij.
Berkata Asy-Syahrastaany: Dan mereka adalah Al-Maariqah yang berkumpul di An-Nahrawan.
e. Al-Muhakkimah
Ini termasuk nama-nama yang pertama kali dinisbatkan kepada mereka karena pengingkaran mereka terhadap tahkim dan slogan mereka: laa hukma illa lillah
yang kemudian menjadi syiar [slogan] mereka ketika ingin memberontak terhadap penguasa atau ketika menyerang orang-orang yang menyelisihi mereka.
4. Sebab-sebab munculnya khawarij:
Di antara faktor-faktor dan sebab-sebab penting kemunculan kelompok khawarij adalah:
1. Perseteruan sekitar masalah khilafah. kemungkinan ini merupakan sebab yang paling kuat dalam kemunculan Khawarij dan pemberontakan mereka, karena mereka memiliki pandangan yang khusus dan keras dalam hal ini,sehingga menganggap penguasa yang ada pada waktu itu tidak berhak menjadi kholifah bagi kaum muslimin ditambah juga dengan keadaan politik yang tidak menentu yang membuat mereka berani untuk memberontak terhadap para penguasa dan ketidak sukaan mereka terhadap orang-orang Quraisy,apalagi mereka menganggap bahwa perselisihan antara Ali dengan Muawiyah adalah perselisihan memperebutkan kursi kekhilafahan
2. Permasalahan tahkim. inipun menjadi sebab yang kuat dari pemberontakan dan kemunculan Khawaarij, karena mereka mengkafirkan Ali lantaran keridhoan beliau terhadap perkara ini
3. Kedzaliman para penguasa dan tersebarnya kemungkaran yang banyak dikalangan manusia. Demikianlah slogan dan propaganda mereka dalam khutbah-khutbah dan tulisan-tulisan mereka untuk mengambil simpati umat islam dengan mengatakan bahwa para penguasa telah berbuat kedzoliman dan kemaksiatan telah menyebar dan merebak pada masyakat yang ada sehingga perlu mencegahnya,akan tetapi pada hakikatnya apa yang mereka lakukan dengan memberontak terhadap penguasa itu lebih besar dari pada kemungkaran dan kedzoliman yang ada,karena mereka menganggap bahwa membunuh orang yang menyelisihi mereka merupakan satu ketaatan yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah dan menganggap semua penguasa mulai dari Ali kemudian Bani Umayah dan Abasiyah adalah dzolim tanpa klarifikasi dan kehati-hatian, padahal menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran bisa dilakukan dengan cara yang lain tanpa harus mengorbankan dan menumpahkan darah-darah orang yang menyelisihi mereka baik penguasa atau rakyat.
4. Fanatisme kesukuan.ini merupakan satu dari sebab-sebab munculnya Khawarij. Fanatisme kesukuan ini telah hilang pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar serta Umar, kemudian muncul kembali pada zaman pemerintahan Utsman dan yang setelahnya. Pada zaman sebelum Islam telah terjadi permusuhan antara suku bangsa Rabi`ah-dan kebanyakan Khawarij dari mereka- dengan Mudhar-diantara mereka adalah Quraisy-sangat kuat. Dan pada masa Utsman fanatisme tersebut mendapat kesempatan untuk berkembang karena terjadi persaingan dalam memperebutkan jabatan-jabatan penting dalam kekhilafahan sehingga Utsman di tuduh mengadakan gerakan nepotisme dengan mengangkat banyak dari keluarganya untuk menjabat jabatan-jabatan strategis di pemerintahannya,dan inilah yang dijadikan hujjah oleh mereka untuk mengadakan kudeta terhadapnya.sehingga berkata Jabalah bin Amr: Demi Allah sungguh aku akan hilangkan kumpulan ini dari lehermu atau kamu tinggalkan pendamping-pendampingmu ini, berkata Utsman: Pendamping-pendamping yang mana? Maka demi Allah aku telah menyeleksinya. Berkata Jabalah :Marwan, Muuawiyah, Abdullah bin Amir bin Kuraiz dan Abdullah bin Saad telah engkau seleksi!?
Sebenarnya orang yang menuduh dia telah mengangkat ahli baitnya untuk jabatan-jabatan tersebut karena kekeluargaan dan fanatis kesukuan adalah seorang pendusta yang ingin mencela dan melecehkan beliau,karena semua yang telah disebutkan Jabalah tersebut merupakan orang-orang yang telah terbukti lebih baik dan lebih pantas darinya dan mereka termasuk para pahlawan Islam yang terkenal,dan sejarah telah membuktikannya.Demikianlah hawa nafsu jika telah menguasai akal manusia.
5. Faktor ekonomi,ini dapat dilihat dari kisah Dzul Khuwaishiroh bersama Rasulullah dan kudeta berdarahnya mereka terhadap Utsman, ketika mereka merampas dan merampok harta baitul-mal langsung setelah membunuh Utsman, demikian juga dendam mereka terhadap Ali dalam perang jamal, ketika Ali melarang mereka mengambil wanita dan anak-anak sebagai budak rampasan hasil perang sebagimana perkataan mereka terhadap Ali: Awal yang membuat kami dendam padamu adalah ketika kami berperang bersamamu di hari peperangan jamal, dan pasukan jamal kalah, engkau membolehkan kami mengambil apa yang kami temukan dari harta benda dan engkau mencegah kami dari mengambil wanita-wanita mereka dan anak-anak mereka.
Oleh karena itu faktor ekonomi pun berperan dalam membangkitkan revolusi mereka,akan tetapi dia bukanlah sebab satu-satunya sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.

6. Semangat keagamaan.ini pun merupakan satu penggerak mereka untuk keluar memberontak dari penguasa yang absah.

4. Ciri-ciri Dan Sifat-sifat Khowarij

Khowarij memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat yang menonjol yang telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits yang shohih, dan hal itu sangat penting dalam mengetahui siapa mereka,dan diantara faidah mengetahui hal ini:

1.      Dengan mengetahui sifat-sifat ini akan tampaklah kepada kita berlebih-lebihannya mereka dalam beragama
2.      Menimbulkan keyakinan bahwa mereka akan selalu ada sampai hari kiamat, karena Rasulullah telah menjelaskannya dan ini penting bagi kita untuk menghindari dari mereka dan mengingatkan umat akan bahaya mereka serta tidak terjatuh dalam hal-hal tersebut.

Diantara sifat-sifat tersebut adalah:

1. suka mencela dan menganggap sesat para pemimpin.
Sifat ini tampak jelas pada Khowaarij, mereka selalu mencela para pemimpin-pemimpin dan menganggap mereka sesat serta menghukumi mereka sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran, dan ini dapat dilihat dari sikap Dzul Khuwaishiroh terhadap Rasulullah.

2. Berprasangka buruk, ini adalah sifat Khawarij yang tampak dalam cara menghukum yang dilakukan oleh Dzul Khuwaishiroh. Berkata Syiekhul Islam : Pada tahun peperangan Hunain, beliau membagi Ghonimah (rampasan perang) Hunain kepada orang-orang yang hatinya lemah (Mualafah Qulubuhum) dari penduduk Nejd dan bekas tawanan Quraisy seperti `Uyainah bin Hafsh,dan beliau tidak memberi kepada kaum Muhajirin dan Anshor sedikitpun.

Maksud beliau memberikan kepada mereka adalah untuk mengikat hati mereka dengan Islam, karena keterkaitan hati mereka dengannya merupakan mashlahat umum bagi kaum muslimin, sedangkan yang tidak beliau beri adalah karena mereka lebih baik dimata beliau dan mereka adalah wali-wali Allah yang bertaqwa dan seutama-utamanya hamba Allah yang sholih setelah para Nabi dan Rasul-rasul-Nya.Jika pemberian itu tidak dipertimbangkan untuk mashlahat umum, maka Nabi tidak akan memberikannya pada orang-orang kaya para pemimpin yang ditaati dalam perundang-undangan dan akan memberikannya kepada Muhajirin dan Anshor yang lebih membutuhkan dan lebih utama. Oleh karena itu orang-orang Khawarij mencela Nabi dan dikatakan kepada beliau oleh pelopornya:Wahai Muhammad berbuatlah adil, sesungguhnya engkau tidak berlaku adil. Dan perkataannya: `sesungguhnya pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mendapat wajah Allah ....

Mereka meskipun banyak shaum (puasa), sholat dan membaca Alquran,tetapi keluar dari As Sunnah dan Jamaah, Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara dan zuhud akan tetapi tanpa disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahwa pemberian itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat, bukan kepada para pemimpin yang ditaati dan orang-orang kaya itu,jika didorong untuk mencari keridhoan selain Allah-menurut prasangka mereka. Inilah kebodohan mereka, karena sesungguhnya pemberian itu menurut kadar mashlahat agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang ketaatan kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu lebih utama. Pemberian kepada orang yang membutuhkannya untuk menegakkan agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikannya lebih agung daripada pemberian yang tidak demikian itu,walaupun yang kedua lebih membutuhkan(Lihat Majmu` Fatawa XXVIII/579-581 dengan sedikit diringkas)

3. Berlebihan dalam beribadah sebagaimana sabda Rasulullah :
karena dia mempunyai teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan diremehkan [merasa remah] shalatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka.

Berkata Ibnu Hajar: Mereka (Khowarij) dikenal sebagai Qurra` Penghapal Alquran), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta`wil Alquran dengan ta`wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mendahului pendapat-pendapat mereka, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu` dan lain sebagainya.

4. Keras terhadap kaum muslimin, sebagimana sabda Rasulullah :
Sesungguhnya akan keluar dari keturunan laki-laki ini, suatu kaum yang membaca Alquran tidak melebihi kerongkongan mereka. membunuh pemeluk Islam dan membiarkan penyembah berhala. Terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Seandainya aku menemui mereka, sunggguh akan aku bunuh mereka seperti dibunuhnya kaum `Aad

Sejarah telah mencatat dalam lembaran-lembaran hitamnya tentang Khawarij berkenaan dengan cara mereka ini. Diantara kejadian yang mengerikan adalah kisah Abdullah bin Khobaab: Dalam perjalanannya, orang-orang Khaawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabab.mereka bertanya kepadanya:Apakah engkau pernah mendengar dari bapakmu suatu hadits yang dikatakan dari Rasulullah, kalau ada, ceritakanlah kepada kami tentangnya! lalu beliau berkata:ya, aku telah mendengar dari bapakku, bahwa Rasulullah menyebutkan tentang fitnah.Yang duduk ketika itu lebih baik dari pada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari, jika engkau menemuinya, hendaklah engkau menjadi hamba Allah yang terbunuh. mereka berkata: Apakah engkau mendengar hadits itu dari bapakmu dan memberitakannya dari Rasulullah?.beliau menjawab:ya, setelah mendengar jawaban beliau tersebut, mereka mengajak ke hulu sungai, lalu memenggal lehernya, maka mengalirlah darahnya seolah-olah seperti tali terompah.

Lalu mereka membelah perut istrinya yang sedang hamil dan mengeluarkan isinya. Kemudian mereka datang kesebuah pohon kurma yang lebat buahnya di Nahrawan. Tiba-tiba jatuhlah buah pohon korma tersebut dan diambil salah seorang diantara merekalalu dia masukkan kedalam mulutnya, Berkatalah salah seorang dari mereka,engkau mengambil tanpa dasar hukum, dan tanpa harga (tidak membelinya dengan sah).Akhrnya ia pun membuangnya kembali dari mulutnya salah seorang dari mereka yang lain mencabut pedangnya lalu mengayunkannya. Kemudian mereka melewati babi milik seorang ahlu dzimmah, lalu ia penggal lehernya kemudian diseret moncongnya. Mereka berkata:ini adalah kerusakan dimuka bumi.setelah mereka bertemu dengan pemilik babi itu, maka mereka mengganti harganya(Talbis Iblis hal.93-94)

5. Sedikit dan rendah pemahaman mereka terhadap fiqh, ini merupakan kesalahan mereka yang sangat besar yang menyebabkan mereka menyempal dari ajaran yang benar.

6. Muda usia dan berakal rendah, sebagaimana sabda Rasulullah :
Akan keluar padda akhir zaman suatu kaum, umumnya masih muda, rusak akalnya, mereka mengatakan dari sebaik-baik perkataan makhluk. Membaca Alquran tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya (H.R. Bukhari VI/618 no. 3611; Muslim II/746 no 1066)

7. Fasih dalam berbahasa. Telah terkenal kefasihan mereka dalam berbicara dan berbahasa, sehingga berkata Ibnu Ziyad: Sungguh ucapan mereka lebih cepat sampai ke hati-hati manusia dari pada rambatan api ke batang kayu
Dikutip dari tluisan  Kholid bin Syamhudi Rohimahullohhu ta'ala

Sejarah Pemikiran Khawarij: Dari Politik ke Teologi

dipetik Dr.YUNAHAR ILYAS, Lc., M.Ag.


MAKALAH ini akan menfokuskan pembahasan pada aliran Khawarij, yang tercatat dalam sejarah memiliki pandangan-pandangan politik dan teologi yang ekstrem. Pertanyaan yang ingin penulis teliti jawabannya adalah latar belakang apa yang menyebabkan Khawarij tidak saja mempunyai pandangan-pandangan politik dan teologi yang ekstrem tapi juga berperilaku keras bahkan cenderung kejam. Mereka, kata Abu Zahra, suka menyabung nyawa dalam bahaya meskipun tidak ada pendorong untuk berbuat itu. Ironisnya mereka sangat kejam dan sama sekali tidak toleran dengan perbedaan pendapat sesama Muslim, tapi sangat toleran dengan Ahlul Kitab.
Tapi sebelum menganalisis masalah di atas penulis akan deskripsikan terlebih dahulu asal usul dan perkembangan Khawarij, dengan tekanan pada asal usul, untuk dapat melihat secara jelas bagaimana persoalan politk diberi legitimasi teologi di samping alasan teknis terbatasnya halaman untuk berbicara panjang lebar tentang perkembangan Khawarij masa-masa selanjutnya. Sedangkan mengenai doktrin pemikiran politik dan teologi Khawarij itu sendiri tidak penulis bicarakan secara khusus, tetapi hanya beberapa doktrin diungkapkan dalam perjalanan bahasan kesejarahan tentang perkembangan pemikiran itu sendiri. Sikap itu diambil karena makalah ini memakai pendekatan historis, bukan doktriner.
Kata kunci: doktrin, teologi, pemikiran Islam, khawarij

this working paper will concentrate discussion in sect of khawarij, wich recorded in history wich has policies opinions and extreme theology. The question that will be answered is what causes khawarij not even has policies opinions and extreme wich theology but also berperila hard even inclined cruel. they? ash word zahra? like to fight cocks soul in danger although there is no organizer to make that. ironically they are very cruel and bot at all tolerant with moslem fellow different idea? but very tolerant with ahlul book. ? but before analyze problem above author description beforehand genesis and development khawarij? with pressure in genesis? to can see clearly how problem politk given theology legitimization beside technical reason the limited yard to speaks detailed about development khawarij times furthermore. while hit policies thinking doctrine and theology khawarij itself not author talks peculiarly? but only several doctrines is unfolded on the way criticism kesejarahan about itself thinking development. that attitude is taken because this working paper wears to approach historic? not doktriner. ?
This working paper will focus the discussion in sect of Khawarij, which is recorded in history wich has the political view and exstreem theology. Question which wish the accurate writer of its answer is what any background causing Khawarij not only has the extreme political view and theology but also hard behaviour even tend to cruel. They, Dusty word [of] Zahra, like to risk life in danger though [there] no impeller to do that. Ironically they very cruel and lenient [is] not at all with the different idea of Moslem humanity, but very lenient by Ahlul [is] Buku.
But before analysing problem [of] above writer of deskripsikan beforehand genesis and growth Khawarij, with the pressure [of] [at] genesis, to be able to see clearly how problem politk given [by] the legitimasi theology beside technical reason the limited page;yard to converse elaborate about growth Khawarij [of] a period of/to hereinafter. While hitting political idea doctrine and theology of Khawarij of writer itself [do] not discuss peculiarly, but only some doctrine laid open on the way history discussion [of] about growth of itself idea. That attitude [is] taken [by] because this handing out hence historical approach, non doktriner.

Pendahuluan
Kematian khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan secara tragis melalui tangan para perusuh tahun 35 H telah menyebabkan terjadinya beberapa peristiwa yang mengguncang tubuh umat Islam. Salah satu di antaranya adalah perang Shiffien, 2 tahun setelah ‘Ali ibn Abi Thalib dibai’at jadi khalifah menggantikan ‘Utsman.
Perang besar antara kubu ‘Ali dengan kubu Mu’awiyah ibn Abi Sufyan itu, tidak hanya mengoyak umat Islam menjadi dua kubu besar secara politis, tetapi juga melahirkan dua aliran pemikiran yang secara ekstrem selalu bertentangan yaitu Al-Khawarij dan Syi’ah. Misalnya Khawarij mengkafirkan dan menghalalkan darah ‘Ali setelah peristiwa, sementara Syi’ah belakangan mengkultuskan ‘Ali demikian rupa sehingga seolah-olah ‘Ali adalah manusia tanpa cacat. Sekalipun semula kedua aliran tersebut bersifat politik tapi kemudian untuk mendukung pandangan dan pendirian politik masing-masing, mereka memasuki kawasan pemikiran agama (baca: teologi)
Makalah ini tidak akan membahas kedua aliran ekstrem tersebut, tapi menfokuskan pembahasan pada aliran Khawarij, yang tercatat dalam sejarah memiliki pandangan-pandangan politik dan teologi yang ekstrem. Pertanyaan yang ingin penulis teliti jawabannya adalah latar belakang apa yang menyebabkan Khawarij tidak saja mempunyai pandangan-pandangan politik dan teologi yang ekstrem tapi juga berperilaku keras bahkan cenderung kejam. Mereka, kata Abu Zahra, suka menyabung nyawa dalam bahaya meskipun tidak ada pendorong untuk berbuat itu. Ironisnya mereka sangat kejam dan sama sekali tidak toleran dengan perbedaan pendapat sesama Muslim, tapi sangat toleran dengan Ahlul Kitab.
Tapi sebelum menganalisis masalah di atas penulis akan deskripsikan terlebih dahulu asal usul dan perkembangan Khawarij, dengan tekanan pada asal usul, untuk dapat melihat secara jelas bagaimana persoalan politk diberi legitimasi teologi di samping alasan teknis terbatasnya halaman untuk berbicara panjang lebar tentang perkembangan Khawarij masa-masa selanjutnya. Sedangkan mengenai doktrin pemikiran politik dan teologi Khawarij itu sendiri tidak penulis bicarakan secara khusus, tetapi hanya beberapa doktrin diungkapkan dalam perjalanan bahasan kesejarahan tentang perkembangan pemikiran itu sendiri. Sikap itu diambil karena makalah ini memakai pendekatan historis, bukan doktriner.
Asal-Usul dan Perkembangan Khawarij

Pada tahun 37 H Mu’awiyah, Gubernur Syria memberontak terhadap Amir al-Mu’minin ‘Ali ibn Abi Thalib. Pemberontakan itu meletus karena dalam suasana berkabung dan emosi yang meletup-letup karena pembunuhan ‘Utsman, ‘Ali mengeluarkan keputusan yang tidak strategis sebagai seorang kepala negara, yaitu pemecatan Mu’awiyah dari jabatan Gubernur Syria. Dengan pemecatan itu Mu’awiyah punya dua alasan untuk melawan ‘Ali. Tidak jelas mana yang lebih dominan, apakah karena ingin menuntut balas atas kematian ‘Ustman atau ingin mempertahankan jabatannya sebagai Gubernur.
Sebelum peperangan meletus, ‘Ali sudah mengirim Jarir ibn Abdillah al-Bajuli untuk berunding dengan Mu’awiyah. Tapi perundingan tidak berhasil mencegah peperangan karena tuntutan Mu’awiyah yang terlalu berat untuk dipenuhi oleh ‘Ali. Mu’awiyah menuntut dua hal: (1) ekstradisi dan penghukuman terhadap para pelaku pembunuhan Amir al Mu’minin ‘Utsman ibn ‘Afan; dan (2) pengunduran diri ‘Ali dari jabatan Imam (khalifah) dan dibentuk sebuah Syura untuk memilih khalifah baru.
Berbeda dengan Mu’awiyah yang secara pribadi punya alasan untuk menuntut balas atas kematian ‘Utsman, penduduk Syria yang mendukungnya memerangi ‘Ali tidaklah dapat dikatakan juga punya motivasi yang sama. Kalau memang mereka siap mati membela darah ‘Utsman, hal itu tentu telah mereka lakukan sejak awal-awal begitu ‘Utsman dibunuh. Tetapi setelah ‘Ali mencapai kemenangan dalam perang Jamal, penduduk Syria melibatkan diri dalam menentang ‘Ali karena mereka menghawatirkan campur tangan ‘Ali dalam urusan dalam negeri mereka sediri di Syria. Demi untuk melemahkan kedudukan ‘Ali penduduk Syria menjadikan pembelaan terhadap ‘Utsman sebagai lambang perjuangan menentang ‘Ali.
Sekali lagi sebelum peperangan benar-benar meletus ‘Ali mengirim kembali juru runding yang terdiri dari Syabats ibn ‘Aibi al-Yarbu’i at-Tamimi, ‘Ali ibn Hatim at-Tha’i, Yazid ibn Qais al-Arhabi, dan Ziyad ibn Khasafah at-Taimi at-Tamimi, untuk merunding dengan Mu’awiyah. Tapi perundingan inipun juga berakhir dengan kegagalan.
Makalah ini tidak akan menguraikan tentang perang Shiffien secara rinci, yang penting diungkap di sini dalam kaitannya dengan kelahiran aliran Khawarij adalah ide ‘Amru ibn ‘Ash dari pihak Mu’awiyah untuk memecah belah pasukan ‘Ali dengan mengangkat lembaran mushhaf Al-Qur’an dengan ujung tombak sebagai isyarat mohon perdamaian dengan bertahkim kepada Kitab Suci Al-Qur’an. Tiga Sejarawan Muslim besar, At-Thabari, Ibnu al-Atsir dan Ibnu Katsir menyebutkan peristiwa itu dalam kitab mereka masing-masing. Menurut ‘Amru, tawaran bertahkim kepada Al-Qur’an itu akan diterima oleh sebagian pengikut ‘Ali dan akan ditolak oleh yang lain. Dengan demikian mereka pecah. Jika sekiranya mereka sepakat toh juga tidak ada ruginya bagi Mu’awiyah karena paling kurang sampai waktu tertentu peperangan dapat berhenti.
Benar saja, segera saja sebagian pengikut ‘Ali menyerukan untuk menerima tawaran Mu’awiyah. ‘Ali sendiri menolaknya, karena menurut dia itu hanyalah bagian dari taktik perang Mu’awiyah. ‘Ali megatakan; “’Ibâdallah, teruslah berada dalam kebenaran dan keyakinan kalian. Teruslah memerangi musuh, karena Mu’awiyah, ‘Amru, Ibn Abi Mu’ith, Habib, Ibn Abi Sarah dan Dhahhak bukanlah Asshâb ad-dîn dan bukan pula Ashhâb Al-Qur’an. Saya lebih mengenal mereka dibandingkan kalian. Saya telah bergaul dengan mereka sejak kecil sampai dewasa, mereka adalah anak-anak dan laki-laki dewasa yang jelek. Mereka minta bertahkim kapada kitab Allah, pada hal, demi Allah, mereka mengangkat mushhaf itu hanyalah untuk tipu muslihat belaka.” Mendengar seruan ‘Ali mereka menjawab: “Mereka mengajak kita kembali kepada Kitabullah, kenapa kita tidak menerimanya?” ‘Ali kembali menjawab: “Saya memerangi mereka supaya mereka tunduk kepada hukum kitab Allah; karena mereka telah menentang perintah Allah dan melupakan janji mereka dengan Allah, serta mengabaikan kitab suci itu.” Kemudian Mis’ar ibn Fadki at-Tamimi, Zaid ibn Hushain ath-Thai dan beberapa tokoh lain dari kelompok Al-Qura’– salah satu unsur koalisi pasukan ‘Ali–mendesak, bahkan mengancam akan memperlakukan ‘Ali seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap ‘Utsman.
Setelah ‘Ali terpaksa mengikuti kehendak mereka, Al-Asy’asts ibn Qais menawarkan diri untuk menemui Mu’awiyah dan menanyakan apa yang diinginkannya dengan mengangkat mushhaf seperti itu. ‘Ali menyetujuinya. Mu’awiyah mengatakan: “Mari kita kembali kepada apa yang diperintahkan Allah di dalam Al-Qur’an. Kalian utuslah seseorang yang kalian sukai dan kami pun akan mengutus seseorang yang kami sukai. Biarkan mereka berdua berunding berdasarkan Kitabullah, kemudian kita ikuti apa yang mereka sepakati”. Dengan segera usulan Mu’awiyah itu disetujui sepenuhnya oleh pasukannya sendiri dan mereka sepakat mengutus ‘Amru ibn ‘Ash sebagai juru runding. Sementara dari pihak ‘Ali sekali lagi kelompok yang tadi memaksa ‘Ali menerima perundingan memaksakan kehendak mereka kepada ‘Ali. Mereka menunjuk Abu Musa al-Ays’ari, sementara ‘Ali menginginkan ‘Abdullah ibn ‘Abbas atau Malik al-Asytar. Sekali lagi ‘Ali terpaksa mengalah kepada keinginan mereka.
Abu Musa adalah tokoh yang sudah terlibat dalam fase-fase pertama penaklukkan Iraq baik sebagai jenderal pasukan maupun gubernur Kufah dan Bashrah. Dia juga pernah menentang kebijakan ’Utsman dan dipilih oleh kelompok sebagai gubernur Kufah ketika mengusir gubernur tunjukan ‘Utsman, Sa’id ibn ‘Ash. Menurut Shaban, Abu Musa punya hubungan politik yang lama tidak tergoyahkan dengan kelompok. Sebaliknya ‘Ali meragukan loyalitas Abu Musa karena ‘Ali pernah memecat Abu Musa dari jabatannya karena kurang aktf dan loyal kepadanya. Perlu dicatat bahwa pada waktu itu Abu Musa tidak ada dalam pasukan, karena dia memencilkan diri ke tanah Hijaz. Waktu utusan memberi tahu bahwa dia telah dipilih sepakai Hakam, Abu Musa berkomentar: Innâ lillahi wa innâ illaihi râji’un. Tidak jelas bagaimana menafsirkan komentar Abu Musa seperti itu. Yang jelas baik Abu Musa maupun ‘Amru adalah dua tokoh yang sangat mengenal daerah masing-masing. Abu Musa sangat kenal daerah Iraq dan ‘Amru sangat kenal dengan Syiria.
Perundingan di Daumah al-Jandal, Azruh itu berjalan cukup lama, sekitar enam bulan, mulai Shafar sampai Ramadhan tahun 37 H. tidak banyak yang dapat diketahui tentang apa saja yang dibicarakan dalam perundingan sehingga memerlukan waktu yang lama. Kalaupun ada masalah yang alot dibicarakan juga tidak jelas masalah apa itu. Di antara yang terungkap adalah keberhasilan ‘Amru meyakinkan Abu Musa bahwa Mu’awiyah sebagai wali ‘Utsman paling berhak dibanding siapapun untuk menuntut balas atas kematian ‘Utsman. Waktu ‘Amru membicarakan keterlibatan ‘Ali dalam pembunuhan ‘Utsman, Abu Musa tidak mau melayani. Dia mengajak ‘Amru membicarakan hal yang bisa menyatukan umat Muhammad. Kata Abu Musa : “Anda tahu, penduduk Iraq sama sekali tidak menyukai Mu’awiyah, dan penduduk Syiria tidak menyukai ‘Ali. Bukankah lebih baik kita copot keduanya dan kita angkat Abdullah ibn ‘Umar?”. ‘Amru segera menyetujui pendapat Abu Musa dan mengusulkan beberapa nama, tapi Abu Musa hanya menyetujui Ibnu ‘Umar. Karena tidak tercapai kesepakatan siapa yang akan diangkat menjadi Khaifah, akhirnya disepakati menyerahkannya kepada permusyawaratan kaum Muslim.
Beberapa sumber kemudian menyebutkan kedua juru runding itu mengumumkan hasil kesepakatan mereka. Yang duluan bicara adalah Abu Musa, baru kemudian ‘Amru. Tapi kemudian ’Amru menghianati Abu Musa dengan secara sepihak mengukuhkan Mu’awiyah menjadi Khalifah tanpa menurunkannya terlebih dahulu seperti yang disepakati. Harun Nasution yang terkenal berpikiri kritis juga meyakini kelicikan bahkan kecurangan ‘Amru tersebut. Tulisnya : “…Tradisi menyebut bahwa Abu Musa al-Asy’ari, sebagai yang tertua, terlebih dahulu berdiri mengumumkan kepada orang ramai putusan menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan itu. Berlainan dengan apa yang telah disetujui, ‘Amru ibn ‘Ash mengumumkan hanya menyetujui penjatuhan ‘Ali yang telah diumumkan al-Asy’ari, tetapi menolak penjatuhan Mu’awiyah”.
Dalam hal ini penulis sepakat dengan Hasan Ibrahim Hasan yang meragukan kebenaran kisah tersebut. Menurut dia, mengutip Al-Mas’udi, kedua juru runding tersebut tidak pernah berpidato menyampaikan hasil perundingan mereka. Mereka memang sepakat mencopot ‘Ali dan Mu’awiyah dan menyerahkan kepada permusyawaratan kaum Muslimin untuk memilih Khalifah baru. Bahkan Hasan menyetakan para sejarawan telah menzalimi Abu Musa dengan menuduh kalah cerdik dari ‘Amru. Kemungkinan besar pelecehan terhadap kemampuan diplomasi Abu Musa itu, menurut Hasan, karena pendapat Abu Musa dalam perundingan itu tidak sejalan dengan pendapat ‘Ali dan Bani Hasyim walaupun sejalan dengan pendapat sebagian besar kaum Muslimin waktu itu.
Kenapa kemudian kedudukan Mu’awiyah semakin kokoh di Syiria, bukan karena ‘Amru telah membai’ahnya, tapi karena memang’Ali tidak lagi punya kekuatan yang cukup untuk menggempur Mu’awiyah karena kemudian pasukan koalisinya menjadi lemah sesudah perang Shiffien, apalagi nanti setelah kelompok besar memisahkan diri yang kemudian dikenal dangan kelompok Khawarij. Sementara pendukung Mu’awiyah semakin solid, apalagi Mu’awiyah sudah mejadi Gubernur Syria semenjak zaman ‘Umar.
Sekarang kita kembali pada kelompok Qurrâ’. Setelah perundingan selesai mereka berbalik menentang Tahkîm, padahal tadinya mereka juga mendesak ‘Ali menerima Tahkîm. Sekarang mereka kemukakan alasan-alasan yang bersifat teologis, untuk mendukung pandangan dan sikap polotik mereka. Menurut mereka, Tahkîm salah karena hukum Allah tentang pertikaian mereka sudah jelas. Mereka yakin kubu ‘Ali lah (dalam konflik dengan kubu Mu’awiyah) yang berada di pihak yang benar. Kubu ‘Ali yang beriman. Tahkîm berarti meragukan kebenaran masing-masing pihak. Hal itu bertentangan dengan Al-Qur’an. Mereka teriakkan Lâ hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah). Mereka meminta ‘Ali mengaku salah, bahkan megakui bahwa dia telah kafir kerena menerima Tahkîm. Mereka desak ‘Ali supaya membatalkan hasil kesepakatan Tahkîm. Kalau tuntutan mereka dipenuhi mereka akan kembali berperang di pihak ‘Ali. Tentu saja ‘Ali menolak. Kesepakatan tidak boleh dilanggar. Agama memerintahkan kita untuk menepati janji. Kalau ‘Ali mungkir janji koalisinya akan semakin pecah. Lagipula bagaimana mungkin dia mau mengakui dirinya telah kafir, padahal dia tidak pernah berbuat musyrik semenjak beriman.
Karena tuntutan mereka tidak dipenuhi ‘Ali, akhirnya mereka meninggalkan kamp ‘Ali di Kufah pergi ke luar kota menuju desa Harura yang tidak seberapa jauh dari Kufah. Dari nama desa Harura inilah, maka untuk pertama kali mereka itu dikenal dengan nama golongan Al-Harûriyah. Di Harura inilah mereka membentuk organisasi sediri dan memilih Abdullah ibn Wahab ar-Rasibi dari Banu ‘Azd sebagai pemimpin mereka. Karena mereka keluar dari kubu ‘Ali itulah kemudian mereka dikenal dengan al-Khawârij, bentuk jama’ dari Khâriji (yang keluar).
Menurut Syahrastani, yang disebut Khârij, adalah siapa saja yang keluar dari (barisan) imam yang hak yang telah disepakati oleh jama’ah, baik ia keluar pada masa sahabat di bawah pimpinan al-Aimmah ar-Râsyiddîn atau pada masa tabi’in atau pada masa imam mana pun di setiap masa. Secara etimologis Syahrastani benar, tapi secara terminologi apalagi secara historis nama Khawarij hanya diberikan kepada kelompok yang keluar dari kubu ‘Ali seperti yang disebut di atas, dan disebut juga al-Harûriyah karena mereka pergi memisahkan diri ke Harura. Tapi dibanding dengan nama-nama lain yang dipanggilkan kepada mereka maka nama Khawarij lah yang paling umum bisa dipakaikan untuk semua kelompok pecahan Khawarij, sebab dalam perkembangan sekanjutnya kita akan lihat kelompok ini paling mudah memisahkan diri dari kelompok awalnya karena perbedaan pendapat yang kadang-kadang tidak prinsip. Khurûj sudah merupakan dustûr mereka. Dalam bahasa Inggris Khawarij ditulis Kharijites dan dialihbahasakan menjadi Seceders, Rebels.
Semakin lama kelompok yang meisahkan diri ke Harura semakin membesar, hingga bulan Ramadhan atau Syawal tahun 37 H jumlah mereka sudah mencapai 12.000 orang. Dan kamp mereka kemudian pindah ke Jukha, sebuah desa yang terletak di tepi barat sungai Tigris. ‘Ali berusaha berunding dengan mereka tapi tidak membuahkan hasil. Secara diam-diam sebagian mereka pergi meninggalkan Jukha, berencana pindah ke-Al-Madain tapi ditolak oleh Gubernur setempat. Akhirnya mereka pergi ke Nahrawan. Jumlah mereka berkumpul di Nahrawan mencapai 4000 orang di bawah pimpinan ‘Abbdullah ibn Wahab ar-Rasibi. Semula ‘Ali tidak menanggapi secara serius gerakan-gerakan orang Khawarij ini, sampai dia mendengar berita tentang kekejaman mereka terhadap orang-orang Islam yang tidak mendukung pendapat mereka. Di antara yang menjadi korban adalah ‘Abdullah ibn Khabbab, salah seorang putera sahabat Nabi. Abu Zahra mengutip kisah kematian putera Khabbab dari buku Al-Kâmil karya Al-Mubarrad sebagai berikut :
“Sekelompok Khawarij berjumpa pada suatu saat dengan seorang Muslim dan seorang Nasrani. Mereka membunuh si Muslim tetapi berpesan kepada si Nasrani agar melakukan kebaikan sambil berseru: “Jagalah janji Nabi kalian!” Kemudian ketika itu ‘Abdullah ibn Khabab sedang membawa mushaf di pundaknya bersama isterinya yang sdang hamil, berjalan menjumpai mereka. Lentas mereka menegur ‘Adullah, dengan mengatakan, “Sesungguhnya apa yang kamu bawa di pundakmu itu menyuruh kami untuk membunuhmu… Bagaimana menurut pendapatmu mengenai Abu Bakar dan ‘Umar?” tanya mereka. ‘Abdullah menjawab, “Aku memuji kedua beliau itu.” Mereka bertanya pula, “Bagaimana pendapatmu mengenai ‘Ali sebelum Tahkîm dan mengenai ‘Utsman dalam kekhalifahannya selama enam tahun?” ‘Abdullah menjawab, “Aku juga memuji kedua beliau itu” Lalu mereka masih bertanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai Tahkîm?” Abdullah menjawab, “Sesungguhnya ‘Ali itu lebih tahu tentang Kitab Allah dari pada kalian semua, lebih taqwa dari kalian dalam beragama, dan beliau lebih mengena pandangannya daripada kalian semua.” Maka mereka mengatakan, “Kamu ini tidak mengikuti hidayah, tapi kamu hanya mengikuti mereka atas nama mereka.” Akhirnya mereka menyeret Abdullah ketepi sungai dan menyembelihnya di sana. Setelah itu mereka tawar menawar dengan orang laki-laki Nasrani tentangn pohon kurma. Orang Nasrani itu megatakan, “Ambil saja, pohon kurma itu milik kalian!” Mereka menjawab, “Demi Tuhan, kami tidak mau membawa kurma ini kecuali dengan harga.” Orang Nasrani itu lalu berkata dengan keheranan, “Ini benar-benar aneh, kalian berani membunuh orang seperti ‘Abdullah ibn Khabab, tetapi kalian tidak mau menerima kurma kami ini kecuali dengan harga”.
‘Ali kemudian mengirim utusan membujuk dan menyadarkan mereka. ‘Ali menawarkan kepada mereka untuk kembali bergabung dengannya bersama-sama menuju Syria, atau pulang ke kampung masig-masing. Sebagian memenuhi anjuran ‘Ali; ada yang bergabung kembali dan ada yang pulang kampung serta ada yang menyingkir ke daerah lain. Namun ada sekitar 1800 orang yang tetap membangkang. Mereka menyerang pasukan ‘Ali pada tanggal 9 Shafar 38 H yang dikenal dengan pertempuran Nahrawan yang mengenaskan itu. Hampir semua mereka mati terbunuh. Hanya delapan orang saja yang selamat.
Sejak peristiwa Nahrawan itu lah kelompok Khawarij yang terpencar di beberapa daerah semakin radikal dan kejam. ‘Ali sendiri kemudian menjadi korban dibunuh oleh ‘Abdurrahman ibn Muljam Al-Murdi, yang anggota keluarganya terbunuh di Nahrawan. Memang karena peristiwa Nahrawan ini, walaupun dari segi fisik ‘Ali dapat menumpas habis semua Khawarij yang berada di situ, telah mengakibatkan ‘Ali tidak pernah bisa berangkat ke Syria. Antara tahun 39 dan 40 H berulangkali orang-orang Khawarij membuat kegaduhan yang menguras ‘Ali untuk menghadapinya. Mu’awiyah pun, yang setelah ‘Ali wafat menjabat kedudukan Amirul Mu’minin dan terkenal hilm (lemah lembut dan ‘arif), selama pemerintahannya yang 20 tahun itu tidak mampu membujuk apalagi menumpas habis Khawarij.
Karena keterbatasan halaman makalah ini tidak akan medeskripsikan lebih jauh perkembangan Khawarij sampai masa-masa selanjutnya. Cuma yang perlu dicatat adalah bahwa dalam perkembangan selanjutnya Khawarij terpecah menjadi beberapa kelompok, karena, seperti sudah diungkap di atas, sudah menjadi dustûr mereka kalau berbeda pendapat segera memisahkan diri membentuk kelompok sendiri. Para sejarawan berbeda pendapat tentang jumlah kelompok-kelompok pecahan Khawarij, tapi mereka sepakat jumlahnya tidak kurang dari dua puluh kelompok, sebagian ushûl dan yang lain furû’. Yang termasuk ushûl menurut Abu Hasan Al-Asy’ary adalah : Al-Azariqah, al-Ibadiyah, an-Najdiyah dan ash-Shufriyah. Sementara menurut Syahrastani yang masuk ushûl adalah al-Muhakkimah al-Ula, al-Azariqah, an-Najdat, al-Baihasiyah, al-‘Ajaridah, ats-Tsa’Alibah, al-Ibadhiyah dan ash-Shufriyah. Yang termasuk furû’ banyak sekali, tidak relevan kita sebutkan semuanya dalam makalah ini, di antaranya adalah al-‘Athawiyah, al-Fadikiyah dan al-‘Ajaridah.
Latar Belakang Ekstremitas Khawarij
Seperti yang sudah diungkap di atas, Khawarij memiliki pemikiran dan sikap yag ekstrem, keras, radikal dan cederung kejam. Misalnya mereka menilai ‘Ali ibn Abi Thalib salah karena menyetujui dan kesalahan itu membuat ‘Ali menjadi kafir. Mereka memaksa ‘Ali mengakui kesalahan dan kekufurannya untuk kemudian bertaubat. Begitu ‘Ali menolak pandangan mereka walaupun dengan mengemukakan argumentasi, mereka menyatakkan keluar dari pasukan ‘Ali dan kemudian melakukan pemberontakan dan kekejaman-kekejaman. Yang menjadi sasaran pengkafiran tidak hanya ‘Ali bi Abi Thalib sendiri, tapi juga Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, ‘Amru ibn ‘Ash, Abu Musa al-Asy’ari dan lain-lain yang mendukung mereka. Dalam perkembangan selanjutnya mereka perdebatkan apakah ‘Ali hanya kafir atau musyrik.
Untuk mendukung pandangan mereka baik dalam aspek politik maupun teologi, mereka menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya ; kelompok al-Azariqah, tidak hanya menyatakan ‘Ali kafir, tapi juga mengatakan ayat; Wa min an-nâsi man yu’jibuka qauluhu fi al-hayâh ad-dunya wa yusyhidullah ‘ala mâ fi qalbihi wa huwa aladdu al-khshâm) diturunkan Allah mengenai ‘Ali sedangkan tentang ‘Abdurrahman ibn Muljam yang membunuh ‘Ali Allah menurunkan ayat (wa minannâsi man yasyri nafsahu ibtighâa mardhâtillah). Mereka gampang sekali menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk menguatkan pendapat-pendapat mereka.
Yang menarik kita teliti adalah, latar belakang apa yang menyebabkan mereka memiliki pandangan seperti itu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu melakukan analisis terhadap pengertian istilah Qurrâ’ atau Ahl al– Qurrâ’, sebutan mereka sebelum menjadi Khawarij. Apakakah istilah itu berarti para penghafal Al-Qur’an atau orang orang kampung. Kalau sekiranya yang benar adalah yang pertama maka persoalannya adalah persoalan teologis murni (persoalan intepretasi yang sempit dan picik), tapi kalau yang benar adalah yang kedua persoalannya adalah persoalan sosial politik. Penulis kira inilah kata kunci yang dapat membantu kita memahami latar belakang ekstremitas Khawarij.
Melihat pemahaman Khawarij yang dangkal dan literer terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka jadikan dalil membenarkan pandangan dan sikap politik mereka, maka penulis lebih cenderung mengartikan istilah Qurrâ’ bukan sebagai para penghafal Al-Qur’an, tetapi orang-orang desa. Nourouzzaman Shiddiqi, sejarawan Muslim dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah menulis paper tenang Khawarij waktu studi di McGill University, Canada menyatakan bahwa Ahlu al-Qurrâ’ lebih tepat diartikan sebagai ‘para penetap’ walaupun Ahl al-Qurrâ’ bisa juga berarti para penghafal Al-Qur’an.
Uraian yang panjang lebar dan agak memuaskan tentang pengertian istilah al-Qurrâ’ ditulis oleh Mahayadin Haji Yahaya dalam bukunya Sejarah Awal Perpecahan Umat Islam (11-78 H/632-698 M) yang berasal dari disertasi doktor yang bersangkutan di Exterter University, England dengan judul bahasa Inggris The Origins of The Khawarij. Menurut Yahaya para sejarawan seperti Sayf, at-Thabary dan Ibn ‘Atsam cenderung menafsirkan al-Qurrâ’ sebagai para penghafal Al-Qur’an. Kekeliruan itu mungkin muncul terpegaruh dengan ucapan Sa’idi ibn ’Ash dalam sebuah khutbah di Masjid besar di Kufah yang megatakan; “Ahabbukum ilayya akramukum li kitâbillah.
Istilah-istilah lain yang dipakai oleh para sejarawan menunjukkan kelompok yang sama yang melakukan pemberontakan di Kufah waktu itu adalah asyrâf, wujûh, sufahâ, rijâl min qurâ’ ahli al-kufah, khyar ahli al-kufah, jama’ah ahli al kufah dan lain-lain yang tidak satu pun yang menunjukkan makna penghafal-penghafal Al-Qur’an. Tetapi yang jelas ialah bahwa al-Qurra’ itu ialah golongan manusia di Kufah, atau sebagian dari golongan asyrâf, orang-orang kenamaan dan pemimpin-pemimpin Kufah yang tinggal atau menguasai kampung-kampung di Irak dan disifatkan sebagai orang-orang yang bodoh. Sebagian dari mereka ini telah disingkirkan dari jabatan-jabatan penting dalam masa pemerintahan Khalifah ‘Utsman.
Sejalan dengan itu Harun Nasution menulis bahwa kaum Khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Hidup di padang pasir yang tandus membuat mereka bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran, tetapi keras hati serta berani, dan bersikap merdeka, mereka tetap bersikap bengis, suka kekerasan dan tak gentar mati. Sebagai orang Badawi mereka tetap jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran-ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, mereka artikan menurut lafaznya dan haus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dan paham mereka merupakan iman dan paham orang sederhana dalam pemikiran lagi sempit akal serta fanatik. Iman yang tebal, tetapi sempit, ditambah lagi dengan sikap fanatik ini membuat mereka tidak bisa mentolelir penyimpangan terhadap ajaran Islam menurut paham mereka, walau pun penyimpangan dalam bentuk kecil. Di sinilah letak penjelasannya, bagaimana mudahnya kaum Khawarij terpecah belah menjadi golongan-golongan kecil serta dapat pula dimengerti tentang sikap mereka yang terus menerus mengadakan perlawanan terhadap penguasa-penguasa Islam dan umat Islam yang ada di zaman mereka.
Khawarij tidak hanya mengkafirkan ‘Ali bn Abi Thalib tapi juga Kalifah ‘Utsman ibn ‘Affan mulai tahun ketujuh pemerintahannya. Pengkafiran terhadap ‘Utsman (masalah teologis) juga berlatar belakang politik (kepentingan), tepatnya masalah tanah-tanah Sawad yang luas di wilayah Sasaniyah yang ditinggalkan oleh para pemiliknya. Di sekitar tanah yang ditinggalkannya itu, tulis Shaban, konflik itu terpusatkan. Tanah-tanah itu tidak dibagi-bagi, tetapi dikelola oleh kelompok Qurrâ’, dan penghasilannya dibagi-bagi antara para veteran perang penaklukan terhadap wilayah tersebut. Kelompok Qurrâ’ itu menganggap diri mereka sendiri hampir-hampir seperti pemilik sah atas kekayaan-kekayaan yang sangat besar ini. ‘Utsman tidak berani menentang hak yang dirampas ini secara terbuka, tetapi menggunakan pendekatan secara berangsur-angsur. Antara lain ‘Utsman menyatakan bahwa para veteran yang telah kembali ke Mekah dan Madinah tidak lantas kehilangan hak-hakya atas tanah-tanah Sawad ini. Kelompok Qurrâ’ dalam jawabannya menegaskan bahwa tanpa kehadiran mereka secara berkesinambungan di Iraq kekayaan-kekayaan ini sama sekali tidak akan pernah terkumpulkan, dengan demikian membuktikan bahwa para veteran Kufah tidak memiliki hak lebih besar atas tanah ini. Akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan ‘Utsman itu kelompok Qurrâ’ belakangan mengetahui bahwa landasan kekuatan ekonomi mereka sedang dihancurkan karena tanah-tanah mereka dibagi-bagi, tanpa mempertimbangkan hak-hak mereka. Sebagai manifestasi perlawanan mereka pada ‘Utsman kelompok ini menghalang-halangi kedatangan Sa’id ibn ‘Ash- Gubernur yang ditunjuk oleh ‘Utsman–memasuki Kufah. Mereka memilih Abu Musa al-Asy’ary sebagai Gubernur dan memaksa ‘Utsman mengakui tindakan kekerasan ini.
Penutup
Dari uraian di atas penulis dapat megambil kesimpulan bahwa pemikiran politik dan teologi serta sikap ekstrem Khawarij lahir terutama disebabkan oleh latar belakang sosio-kultural mereka sebagai orang-orang Arab Badawi yang punya watak keras, kasar dan berani sehingga mereka tidak gentar mati walaupun untuk hal-hal yang tidak perlu. Sebutan Qurrâ’ bagi mereka sebelum dikenal dengan nama Khawarij tidaklah menunjukkan arti para penghafal Al-Quran, tapi menunjukkan arti mereka sebagai orang-orang desa.
Dari sejarah Khawarij itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa persoalan-persoalan sosial politik kalau dibungkus dengan agama bisa mendatangkan bahaya yang lebih besar, apalagi kalau dilakukan oleh orang-orang yang pemahaman dan penguasaannya terhadap ajaran Islam sangat terbatas bahkan sangat sempit. Wawasan yang sangat sempit dan tertutup dapat melahirkan ekstremitas tidak hanya pemikiran tapi juga sikap dan tindakan.
YUNAHAR ILYAS,
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


KEPUSTAKAAN
Amin, Ahmad, Fajrul Islam, Cairo : Dar al-Kutub, cet. XI, 1975.
Al-Asy’ari, Abu Al-Hasan ‘Ali ibn Isma’il, Maqalât al-Islamiyîn wa Ikhtilâfu al-îMushalln, Cairo : Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyah, cet. II, 1969.
Abu Zahrah, M, Sejarah Aliran-aliran dalam Islam Bidang Politik dan Aqidah, terjemah Shobahussurur, Gontor : PSIA, cet.I, 1991.
Ghazaly, ‘Ali Musthafa, Târîkh al-Firaq al-Islamiyah wa Nasyah ‘Ilmi al-Kalâm ‘Inda al-Muslimîn, Cairo, Maktabah Muhammad ‘Ali Shabij wa Auladih, cet. III. 1958.
Grunebaum, G. E. von, Clasical Islam A History 600 A.D.-1258 A.D., Chicago: Aldine Publising Company, cet. I, 1970.
Hasan, Ibrahim Hasan, Târîkh al-Isâlm as-Siyâsi wa ad-diny wa ats-Tsaqafi wa al- Ijtimâ’iy, Cairo: Maktababah an-Nahdhah al-Misriyah, cet. IV, tahun 1957.
Ibnu Al-Atsir, Al-Kâmil fi at- Târîkh , jilid III, Beirut: Darus Sader, 1965.
Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wan Nihâyah, juz VII, Lebanon : Darul Kutub al-‘Ilmiyah. Tt.
Nasution, Harun, Teologi Islam, Aliran-Aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan, Jakarta: Jakarta, UI Press, cet.V, 1986.
Shaban, M.A., Sejarah Islam (Penafsiran Baru) 600-750, terjemahan Machnun Husein, Jakarta: Rajawali Pers, 1993.
Shiddiqi, Nouruzzaman, Syi’ah dan Khawarij dalam Perspektif Sejarah, Yogyakarta, PLP2M, cet, I, 1985.
Asy-Syahrastani, Muhammad Abdul Karim, Al-Milal wan-Nihal, Beirut: Darul Fikr, tt.
Ath-Thabari, Muhammad ibn Jarir, Târîkh al-Umam wal-Mulk, juz V, Lebanon: Darul Fikr, 1979.
Yahya, Mahayudi Haji, Sejarah Awal Perpecahan Umat Islam (11- 78 H/632 – 698 M), Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, cet. II, 1986.

++ Kenapa Singapore Keluar Dari Tanah Persekutuan (Part 1)++


Sebab utama Singapura memilih untuk masuk Malaysia kerana ketika itu masalah komunis berleluasa dan ketika itu pasukan ketenteraan malaysia agak kuat berbanding s'pore. maka, dengan bergabung bersama malaysia, mereka berharap malaysia akan bantu membersihkan aktiviti komunis di s'pore juga. singapore hanya bertahan bersama malaysia selama 2 tahun.

ketika masuk malaysia, timbuk konflik perkauman antara melayu dan cina. Hubungan Singapura & Tanah Melayu semakin terjejas terutama sekali dalam pilihanraya pada tahun 1964, apabila PAP turut bertanding.

Sebelum menjelang pilihanraya, Lee Kuan Yew telah bertindak memperkecilkan MCA dan mendakwa pemimpin MCA tidak berkaliber dan bersahabat dengan UMNO.

Sikap Kuan Yew dan PAP telah menimbulkan kemarahan bukan shj oleh pemimpin MCA tetapi juga oleh Tunku Abdul Rahman sendiri.

Tindakan PAP ini dikatakan cuba mengambilalih peranan MCA yg menjaga kepentingan kaum Cina.

PAP bukan shj menjadi musuh org Cina tetapi juga org Melayu
Keretakan hubungan ini semakin ketara dan akhirnya mencetuskan rusuhan pada 21 Julai dan 2 September 1964.

Tunku kecewa dgn tindakan Singapura dan jalan penyelesaian yg terbaik adalah melalui perpisahan.

27 April 1965, Singapura tlh mengadakan satu konvensyen untuk membentuk United Opposition Front yg memperjuangkan konsep persamaan hak

Malaysia for Malaysian - tiada sebarang kaum pun yg lebih asli drp kaum lain
9 Mei 1965 - PAP adalah Konvensyen Perpaduan Malaysia yang semakin menyatukan org Cina utk terus memusuhi org Melayu

Kempen Kuan Yew Malaysia for Malaysian akhirnya dibalas oleh pemimpin UMNO - Jaafar Albar dgn slogan “Melayu Bersatu”

Pemimpin MCA turut merasa tidak senang dgn tindakan Singapura.
Tan Siew Sin & Senator T.H.Tan - pemimpin MCA yg mencadangkan perpisahan Singapura drp Malaysia

7 Ogos 1965 - Kuan Yew & Tunku tandatangani perjanjian perpisahan

9 Ogos 1965 - Parlimen meluluskan Rang Undang-undang Perpisahan
Singapura dgn rasminya keluar dr Malaysia dan menubuhkan republik.

Oleh : Pengajian Malaysia.

siapa Hero!

Tok Janggut Tikam Sarjan Sulaiman: UMNO pilihlah siapa Hero!
Nama sebenar Tuk Janggut ialah Haji Mat Hassan bin Panglima Munas. Beliau mendapat pendidikan di Mekah dan mahir bersilat. Selepas Perjanjian Bangkok 1909, British mengambil alih pemerintahan Kelantan daripada Siam dan mula membawa pelbagai perubahan khususnya dari segi pentadbiran. Perubahan yang diperkenalkan telah menyentuh kedudukan dan keistimewaan tradisional di negeri Kelantan.

Antara yang paling sensitif ialah mengenai pengenaan cukai kepala sebanyak RM1.00 seorang setiap tahun, pokok buah-buahn sebanyak 3 sen setahun, kelapa 3 sen setandan dan sireh 5 sen sejunjung.

Pada 29 April 1915, pentadbiran Jeram, Pasir Puteh, Kelantan telah diambil alih oleh Encik Latiff iaitu seorang pegawai tadbir Pentadbiran British yang berasal daripada Singapura, menggantikan raja yang berkuasa di daerah itu. Pertelingkahan mengenai cukai dan pengurusan pengutipan cukai membuatkan Haji Mat Hassan (Tuk Janggut) enggan membayar cukai.

Encik Latiff mengarahkan satu pasukan polis yang diketuai oleh Sarjan Sulaiman (Che Wan) bertolak ke Kampung Tok Akib untuk menangkap Tuk Janggut pada 29 April 1915. Dalam satu pergelutan yang berlaku, Sarjan Sulaiman telah ditikam oleh Tuk Janggut lalu terbunuh, Tuk Janggut telah menghimpunkan orang-orangnya menuju ke Pasir Puteh. Encik Latiff pula telah melarikan diri melalui ke Kota Bharu. Bantuan daripada Singapura dan Negeri Melayu Bersekutu dikejarkan ke Pasir Puteh pada 6 Mei 1915. Satu pertempuran berlaku pada 25 Mei 1915 di Kampung Merbuk dan Kampung Pupuh.



Kebangkitan Tuk Janggut menyebabkan Sultan Kelantan yang memerintah pada masa itu berasa terancam dan serba salah. Atas Desakan Pegawai Penasihat British pada masa itu Sultan Kelantan terpaksa menganggap Tuk Janggut sebagai seorang penderhaka. Pada hal Tuk Janggut bangkit menentang atau melawan pentadbiran British yang menggunakan undang-undang cukai baru di seluruh Kelantan, termasuk Pasir Putih.

Dalam pertempuran di Kampung Pupuh, Tuk Janggut telah terkena tembak lalu meninggal dunia. Mayat Tuk Janggut dibawa ke Kota Bharu dalam kereta lembu yang memakan masa satu hari. Mayat beliau digantung songsang (kaki di atas dan kepala di bawah)beberapa hari di Padang Bank (Padang Merdeka).Kemudian mayatnya itu telah ditembak oleh sepasukan pihak British sehingga putus dua badannya. Selepas itu mayatnya dibungkus dan dibawa dengan perahu ke Pasir Pekan untuk dikebumikan.

(Pak Teh telah menziarahi pusara Tok Janggut beberapa tahun lalu - mungkin UMNO menganggap beliau adalah pengkhianat kerana melawan Melayu barua British, namun Pak Teh tetap mengatakan beliau mati sebagai seorang syuhada - Al-Fatihah)

Peristiwa Bukit Kepong (1950) ada persamaan dengan peristiwa Tok Janggut (1915). Tok Janggut di tuduh penderhaka kerana menentang Pasukan Malay State Guide di Kampung Dalam Pupuh, Pasir Putih, sementara Mat Indera telah dituduh Komunis kerana menyerang Rumah Pasong, Bukit Kepong, Muar dan membunuh Mata-Mata. Kedua-dua peristiwa ini melibatkan pihak British sebagai dalangnya dan kejadian berlaku semasa zaman Penjajahan British.

KALAU BETUL!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

KALAU BETUL UMNO PEJUANG KEMERDEKAAN..
KALAU BETUL UMNO BERJUANG MELAWAN PENJAJAH BRITISH..

GUA NAK TANYA MANA FILEM MELAWAN BRITISH?
KENAPA UMNO TAK KELUARKAN FILEM MELAWAN PENJAJAH BRITISH?
KENAPA UMNO HANYA KELUARKAN FILEM MELAWAN KOMINIS?

KENAPA JINS SAMSUDIN DIKERAH UNTUK MEMBUAT FILEM MELAWAN KOMINIS?
KENAPA TIDAK DI KERAH UNTUK MEMBUAT FILEM MELAWAN PENJAJAH?
BERTAHUN JINS SAMSUDIN MAKAN HASIL FILEM MENIPU DENGAN DI TANGGUNG OLEH BANK TEMPATAN..ADAKAH IA DI SOKONG OLEH PENJAJAH?
ATAU FILEM INI ADALAH EDEA PENJAJAH UNTUK MENGABURI MATA ORANG MELAYU TERUTAMA ORANG UMNO YANG BODOH NAK MAMPOSS..

JELAS UMNO SAMPAI SAAT INI MASIH BERSEKONGKOL DENGAN PENJAJAH DAN PERJALAN UMNO MASIH DIATUR OLEH PENJAJAH...

Tuesday, 30 August 2011

Tak sabar nak raya?



Kecoh Tarikh Hari Raya Aidilfitri Di Indonesia

JAKARTA – Penetapan tarikh Hari Raya Aidilfitri menjadi perbalahan apabila sekumpulan pengikut pertubuhan Islam kedua terbesar di negara ini, Muhammadiyah menyambut hari raya semalam walaupun pemerintah Indonesia menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari ini.

Kementerian Hal Ehwal Agama Indonesia mengumumkan lewat kelmarin bahawa 1 Syawal jatuh pada hari ini dan bukannya semalam seperti mengikut kebanyakan kalendar.

Menurut Ketua Pengarah Hal Ehwal Islam di Kementerian Agama, Nasaruddin Umar, persetujuan telah dicapai dalam kalangan ramai pihak termasuk pakar-pakar astronomi, tentera laut, Agensi Penilaian dan Aplikasi Teknologi serta cendekiawan Islam bahawa kedudukan anak bulan amat rendah sekali gus menyebabkan 31 Ogos adalah tarikh yang tepat untuk permulaan bulan Syawal.

Kedudukan anak bulan itu adalah kurang dua darjah di atas kaki langit.

Bagaimanapun, pertubuhan Muhammadiyah yang mempunyai 20 juta pengikut menggunakan perkiraan hisab bagi menentukan tarikh Hari Raya Aidilfitri.

Pengerusi Muhammadiyah, Haedar Nasir berkata, walaupun terdapat perbezaan dalam menentukan tarikh Hari Raya Aidilfitri dan Hari Raya Aidiladha, ia tidak menjejaskan hubungan persaudaraan dalam kalangan Muslim di negara ini.

Hari Raya Aidilfitri turut disambut semalam di Arab Saudi, Palestin, Rusia, Mesir, Malaysia, Sudan, Kenya, Belanda, Kosovo, Afghanistan, Somalia, Bosnia, Syria, Jordan, selatan Thai dan Filipina. – Agensi - Kosmo Online


Monday, 29 August 2011

nie sy bukan nak cerite pasal politik plak la.......tp nie la hakikat yg kite
haurus trima...............


ISSUE WHICH IS NOT YET BEEN ANSWERED BY BARISAN NASIONAL, MALAYSIAN DEMAND THE ANSWER FROM THE FEDERAL GOVERMENT.

1. PKFZ RM12bill
2. Submarine RM500mil
3. Simedarby RM964mil
4. Paya Indah Westland RM88mil
5. Posmalaysia (transmile) RM230mil lost
6. Eurocopter deal RM1bil waste?
7. Terengganu Stadium Collapsed RM292mil
8. MRR2 repair cost RM70mil
9. Maybank Overpay for BII RM4bil
10. Tourism -NYY kickback RM10mil
11. 3 paintings bought by MAS—————– RM 1.5M
12. Overpayment by Sport Ministry ————- RM 8.4M
13. London 's white elephant sports complex —- RM 70M
14. MRR2 Repairs—————————— RM 70M
15. MATRADE repairs ————————– RM 120M
16. Cost of new plane used by PM————– RM 200M
17. InventQ irrecoverable debt —————- RM 228M
18. Compensation for killing crooked bridge —– RM 257M
20. Lost in selling Augusta ——————— RM 510M
21. Worth of AP given out in a year ———— RM 1.8B
22. Submarines (future Muzium Negara artifacts)- RM 4.1B
23. PSC Naval dockyard ———————— RM 6.75B
24. The Bank Bumiputra twin scandals in the early 1980s saw US$1 billion (RM3.2 billion in 2008 ringgit)
25. The Maminco attempt to corner the world tin market in the 1980s isbelieved to have cost some US$500 million. (RM1.6 billion)
26. Betting in foreign exchange futures cost Bank Negara Malaysia RM30 billion in the 1990s.
27. Perwaja Steel resulted in losses of US$800 million (RM2.56 billion).
28. Use of RM10 billion public funds in the Valuecap Sdn. Bhd. operation to shore up the stock market
29. Banking scandal of RM700 million losses in Bank Islam
30. The sale of M.V. Agusta by Proton for one Euro making a loss of €75.99 million (RM 348 million)
31. Wang Ehsan from oil royalty on Terengganu RM7.4 billion from 2004 – 2007
32. For the past 10 years since Philharmonic Orchestra wasestablished, this orchestra has swallowed a total of RM500 million.Hiring a kwai-lo CEO with salary of more than RM1 M per annum !!
33. In Advisors Fees, Mahathir was paid RM180,000, Shahrizat AbdulJalil (women and social development affairs) RM404,726 and Abdul HamidOthman (religious) RM549,675 per annum
34. The government has spent a total of RM3.2 billion in teachingMaths and Science in English over the past five years. Out of theamount, the government paid a whopping RM2.21 billion for the purchaseof information and computer technology (ICT) equipments which it isunable to give a breakdown. Govt paid more than RM6k per notebook vsper market price of less than RM3k through some new consortiums thatsetup just to transact the notebook deal. There was no math &science content for the teachers and the notebooks are all with theteachers' children now.
35. The commission paid for purchase of jets and submarines to twoprivate companies Perimeker Sdn Bhd and IMT Defence Sdn Bhd amounted toRM910 million.
36. RM300 million to compensate Gerbang Perdana for the RM1.1 billion "Crooked Scenic Half-Bridge"
37. RM1.3 billion have been wasted building the white elephantCustoms, Immigration and Quarantine (CIQ) facilities on cancellation ofthe Malaysia-Singapore scenic bridge
38. RM 100 million on renovation of Parliament building and leaks
39. National Astronaut Programme – RM 40 million
40. National Service Training Programme – yearly an estimate of RM 500 million
41. Eye on Malaysia – RM 30 million and another RM5.7 million of free ticket
42. RM 2.4 million on indelible ink
43. Samy announced in September 2006 that the government paidcompensation amounting to RM 38.5 billion to 20 highway companies. RM380 million windfalls for 9 toll concessionaires earned solely from thetoll hike in 2008 alone.
44. RM32 million timber export kickbacks involving companies connected to Sarawak Chief Minister and his family.
45. Two bailouts of Malaysia Airline System RM7.9 billion. At atime when MAS incurring losses every year, RM1.55 million used to buythree paintings to decorate its chairman's (Munir) office.
46. Putra transport system bailout which cost RM4.486 billion.
47. STAR-LRT bailout costing RM3.256 billion.
48. National Sewerage System bailout costing RM192.54 million.
49. Seremban-Port Dickson Highway bailout costing RM142 million.
50. Kuching Prison bailout costing RM135 million.
51. Kajian Makanan dan Gunaan Orang Islam bailout costing RM8.3 million.
52. Le Tour de Langkawi bailout costing RM 3.5 Million.
53. Wholesale distribution of tens of millions of shares in BursaMalaysia under guise of NEP to cronies, children and relatives of BNleaders and Ministers worth billions of ringgits.
54. Alienation of tens of thousands of hectares of commercial landsand forestry concessions to children and relatives of BN leaders andMinisters worth tens of billions of ringgits.
55. Since 1997, Petronas has handed out a staggering 30 billionringgit in natural gas subsidies to IPPs who were making huge profits.In addition, there were much wastages and forward trading of Petronasoil in the 1990s based on the low price of oil then. Since the accountsof Petronas are for the eyes of Prime Minister only, we have absolutelyno idea of the amount.
56. RM5700 for a car jack worth RM50
57. Government-owned vehicle consumed a tank of petrol worth RM113 within a few minutes
58. A pole platform that cost RM990 was bought for RM30,000
59. A thumbdrive that cost RM90 was bought for RM480
60. A cabinet that cost RM1,500 was bought for RM13,500
61. A flashlight that cost RM35 was bought for RM143
62. Expenses for 1 Malaysia campaign paid to APCO?
63. RM17 billion subsidy to IPP




ape sudah jAdI!!!!??? sebelum nie x 1 pon kes sprt nie tp....sejak mule lah taklukam kuase oleh pah lah sampai skung pak najib....macam2 yng berlaku....
RENUNG ~ RENUNG KAN LAH!!!! BKAN NAK KATE KERAJAAN PEMERINTAHAN SKUNG X BAGOS NIE LA....HAKIKAT NYE ..... DUIT TU SEMUA SAPE PUNYE????
XTAK BUKAN DUIT KITE JUGAK...KAN!!

Friday, 26 August 2011

Salahkah Cinta? Setibanya Masa Untuk Aku Berbicara





 


Salahkah Cinta?

Semua yang aku jalani bersama diri dia, aku akan simpan dalam cakera padat hati aku..namun tentu itu belum cukup untuk menggamit perasaan kasih dia pada aku, lalu aku hanya ada 1 alternatif saja iaitu membuktikan pada diri dia yang aku mampu menjaga dia..yang akan melindungi dia..yang akan menerima dia seadanya..namun jika aku masih lagi bukan pilihan hati dia..aku juga hanya ada 1 alternatif iaitu menerima takdirNya dengan redha dan tabah..sorotan 2008 mengimbau kenangan yang sangat manis & indah walau dia hanya mengukir sebingkas senyuman..satu perkara yang aku pasti bahwa dia masih belum dimiliki dan aku belum menakluki dunia sementara ini..oleh itu masih belum tiba masanya untuk aku bicara soal cinta..sekarang aku faham bukan dari rentetan peristiwa kelmarin tapi hanya pilihan diri dia untuk menyepi mungkin itu yang terbaik..mungkin itu mampu mengubah suram jadi ceria..tapi hanya Tuhan mengerti istilah cinta itu kerana hanya Dia lah yang menciptakannya..apa yang aku harus lakukan sekarang adalah menunggu akan tibanya waktu yang tepat untuk berbicara..biarlah masa yang menentukan hingga aku benar-benar faham dan mengerti erti sebuah perhubungan yang suci..

di dalam sebuah cinta
terdapat bahasa
yang mengalun indah
mengisi jiwa
merindukan kisah kita berdua
yang tak pernah bisa
akan terlupa

bila rindu ini
masih milikmu
kuhadirkan sebuah
tanya untukmu
harus berapa lama
aku menunggumu….

didalam masa indah
saat bersamamu
yang tak pernah bisa
akan terlupa
pandangan matanya
menghancurkan jiwa
dengan segenap cinta
aku bertanya
bila rindu ini
masih milikmu
kuhadirkan sebuah
tanya untukmu
harus berapa lama
aku menunggumu…
dalam hatiku menunggu…
dalam duniaku menunggu…
aku terus menunggu….


Tetap pasti aku menunggumu..walau aku tahu penantian itu sebuah penyeksaan tapi inilah yang aku harus lalui demi mengenal siapa diri aku, itu janji aku pada kau masa aku mula mengenal diri kau..aku janji yang aku tidak akan persiakan hubungan ini yang aku mahukan ianya berakhir dengan senyuman dengan matlamat…bukan mudah..seperti aku jangkakan tiada apa yang kita mahukan akan datang bergolek tanpa perlakuan kita yang cenderung ke arah apa yang kita mahukan..bukan kita yang tentukan, bukan urusan kita untuk menetapkan, kita hanya mampu untuk merancang, menjangka apa yang kita lihat terbaik untuk kita di masa hadapan..dan aku mahukan yang terbaik untuk aku dan dia…itu juga apa yang semua orang mahukan..tapi yang membezakan kita adalah rancangan yang kita atur dari hari ini..namun jika aku bukan pilihan hatinya aku tetap akan buktikan pada diri aku sendiri yang aku tetap mampu mengorak langkah untuk mencapai apa yang aku hajati dalam dunia ini selagi aku diberi nikmat bernafas…aku bukan pasimistik, aku enggan tunduk pada kenyataan yang aku ini orang lemah tidak mampu lakukan sesuatu..aku bangkit demi cinta kerana itu juga nikmat kurniaannya yang tiada bandingan..hakikatnya bagaimana aku mampu merancang jika aku bukan pilihan hatinya…sedar diri aku dalam angan-angan dirinya…
jika memang diriku
bukan lah menjadi pilihan hatimu
mungkin sudah takdirnya
kau dan aku takkan mesti bersatu

harus slalu kau tau
kumencintamu disepanjang waktuku
harus slalu kau tau
semua abadi untuk slamanya

karena kuyakin cinta dalam hatiku
hanya milikmu sampai akhir hidupku
karena kuyakin disetiap hembus nafasku
hanya dirimu satu yang slalu kurindu